Anak-anak Play Group, SD/MI, SMP/MTs,SMA/SMK mulai masuk sekolah.Ada yang seragam sekolahnya terlihat masih terlihat kebaruannya.Sepatu bersih banyak dipakai siswa.Tas baru yang berisi buku-buku bersampul rapi sudah disiapkan.Potongan rambut baru, rapi, tertata dan yang perempuan rambut terikat rapi pula.Serba barulah pokoknya.
Tahun ajaran baru 2011/2012 dimulai pada hari Senin, 11 Juli 2011.Tahun ajaran baru tidak ubahnya tahun baru yang lain. Tahun baru tahun yang berganti dengan yang baru.Bergantian tahun tidak terasa, tidak diketahui, hanya kalender atau kalender paendidikan yang menunjukkan bergantinya tahun. Bergantinya tahun mengharuskan orang membuat rencana, program yang baru. Program yang dahulu di-update dan disetting dengan model yang lebih bagus.
Baru berarti berubah. Perubahan dengan meninggalkan yang lama yang sudah usang. Yang usang ya harus diganti bila itu mengganggu mobilitas. Melihat saja terasa kurang sedap bila yang usang masih menempel. Penglihatan terganggu membawa pengaruh ke pikiran atau perasaan. Perasaannya sudah merasakan yang baru, terkondisi pada hal baru karena tahun ajaran baru.
Perasaan ada hubungannya dengan pikiran yang keduanya tidak bisa terpisahkan dalam diri. Pikiran baru karena pikiran baru, pikiran baru karena persaannya baru.Seperti uang logam yang permukaan satu mendukung permukaan yang satunya, kompak antara keduanya. Pikiran menimbulkan perasaan, diantaranya. Pikiran baru memunculkan semangat (perasaan)baru.
Semangat baru yang memotivasi program baru sehingga dalam perjalanannya lebih mulus, lebih bagus. Kalau tidak ada semangat apalah artinya tahun baru. Semangat merupakan obor yang memanasi diri supaya terus antusias waktu menjalankan program yang terencana. Program yang dibuat apabila dijalankan dengan perasaan dingin seperti apa hasilnya. Mau membuat kopi, airnya dingin, perut ndak terima. Protes dengan berjingkrak-jingkrak mengitari dinding, mulas, melilit, sakit. Mana bisa lancar perjalanan program baru ini?
Untuk para siswa, utamanya 'semangat baru' jangan sampai tercecer. Ok, kelihatannya anak-anak bersemangat sekali masuk hari pertama sekolah. Penampilannya semangat. Saya yakin penampilan itu tersembul dari dalam diri dalam menyongsong tahun ajaran baru.
Ingat kan? Sepatu sudah baru, penampilan sudah baru, semangat baru, sesuatu yang usang atau jelak diganti yang baru pula. Usang yang artinya jelek, misalnya malas belajar diganti rajin belajar, yang dulu merasa tidak pandai diganti dengan merasa pandai. Segala ilmu yang diberikan oleh Bapak/Ibu Guru pasti dimengerti dan bisa. "Aku pasti bisa". Kata-kata ini yang mestinya selalu berada dalam benak siswa,orang Indonesia.Dengan merasa bisa-tanpa menyombongkan diri-kita selalu optimis dalam menjalani program baru.Kalau sudah de3mikian, sukses menyertainya.
SANG PEMBELAJAR YANG SELALU BELAJAR BAIK DARI BUKU-BUKU, NARA SUMBER, INTERNET, DIRI SENDIRI, PERISTIWA ATAU ALAM
Minggu, 10 Juli 2011
Sabtu, 09 Juli 2011
TAHU DIRI
Setiap kita pasti mempunyai kesibukan. Kesibukan dengan keluarga, menangani pekerjaan yang harus diselesaikan dengan target waktu, menggeluti apa yang menjadi kesenangan atau hobi. Kesibukan yang berbagai macam bentuknya membuat kita untuk lebih pandai mengatur diri. Pandai mengatur waktu. Harus pandai, mengatur diri, waktu, keuangan, tenaga, dll. Ketika asyik mengerjakan yang berhubungan dengan pekerjaan maka waktu seakan tak terasa. Merasa hanyut dalam suasana kerja yang memang sebaiknya dikerjakan dengan mental serta tenaga total. Pekerjaan yang mengasyikkan, mengerjakan dengan berbagai ide bermunculan membuat keinginan menyelesaikan dengan baik dan semakin baik.
Wah... kerja sungguhan nich?
Muncul ide satu tambah satu dan tiada henti. Kalau bekerja secara total bisa juga lupa juga pada waktu, rasanya masih sebentar yang telah dikerjakan. Waktu berjalan dengan cepat. Apakah waktu tidak bisa diulur ya? Eh.. waktu diulur emangnya karet gelang? Bertambahnya ide berarti semakin pandai, bukan? Ya, itu bertambah pandai dengan melakukan sesuatu. Ide muncul dengan sendirinya, mengalir seirama dengan apa yang kita kerjakan. Ingin pandai ternyata gampang khan. Lakukan sesuai dengan pengetahuan yang sudah dimiliki dulu, nanti berkembang pengetahuan itu bersama dengan permasalahan yang ditemui saat menjalani pekerjaan. Dengan melakukan, ilmu malah berkembang, bertambah, yang menjadi pintar tanpa terasa. Ingin pintar berarti ya lakukan, kerjakan, dan jalani dulu apa yang kauingin lakukan. Pintar dah...!
Pintar itu bagus. Yang harus dicermati lagi pintar mengatur waktu. Waktu kok diatur. Waktu bisa dibengkokkan atau dimodel sesuai dengan kehendak? Barang .....kale? Bukan kan. Sebetulnya diri kita yang harus tahu waktu. Kapan waktu mengerjakan sesuatu harus selesai, kapan saatnya break bila asyik mengerjakan atau melakukan pekerjaannya. Harus pintar...! Artinya harus ingat alias tidak lupa. Kalau ingat itu berarti sadar. Sadar bila sedang menjalani lakuan mengerjakan sesuatu. Kalau nggak sadar, apa gila atau lupa ingatan? Enggak lah... Cukup menyadari kalau kita melakukan ini dan itu. Ingat dalam melakukan apa saja yang dijalani. Lupa berrati tidak ingat. Tidak ingat? ya... harus selalu sadar. Pintar tapi tidak sadar atau lupaan, dimana pintarnya? Hilang nanti....Jadinya apa? ya hilang.
Seyogyanya harus selalu tetap sadar sehingga menyadari bila ada pergantian waktu, pergantian yang perlu ditangani, gitu kan?
Ngono yo ngo ning ojo ngono. Konsen ke pekerjaan ya konsen tetapi ya harus mengetahui batas waktunya. Apa yang harus dilakukan pada hari ini, punya janji apa ya dengan teman, suami/istri, kebutuhan diri yang lain. Ini mungkin yang bisa disebut tahu diri. Tahu yang harus diri sedang melakukan, tahu waktu bergantinya yang dilakukan.
Ngono yo ngo ning ojo ngono. Konsen ke pekerjaan ya konsen tetapi ya harus mengetahui batas waktunya. Apa yang harus dilakukan pada hari ini, punya janji apa ya dengan teman, suami/istri, kebutuhan diri yang lain. Ini mungkin yang bisa disebut tahu diri. Tahu yang harus diri sedang melakukan, tahu waktu bergantinya yang dilakukan.
Tahu diri menjadikan semua apa yang menjadi tugas kita bisa dijalani dengan tepat. Jadinya, bervariasi. Hidup yang variatif, tidak mono tone. Semua target terlaksana. Semua orang bisa merasakan "diri kita" termasuk diri sendiri. Enak khan?
Teman merasa senang karena perjanjiannya terpenuhi, istri/ suami senang karena terlayani, pekerjaan tuntas karena dikerjai, hobi tersalur karena kita dapat mengendalikan diri.
Ya, begitulah kiranya orang harus pandai untuk tahu diri.
Teman merasa senang karena perjanjiannya terpenuhi, istri/ suami senang karena terlayani, pekerjaan tuntas karena dikerjai, hobi tersalur karena kita dapat mengendalikan diri.
Mencari Ilmu
Mencari Ilmu
Mencari ilmu tidak terbatas oleh waktu. selama masih sempat diupayakan selalu mencari. mencari ilmu tidak terbatas oleh tempat. Dimanapun berada, bisa mendapatkan ilmu.segala sesuatu bisa diraih hanya dengan ilmu. ilmu yang bermanfaat, tentunya. Termasuk, pada kali awal ini menulis-nulis dengan harapan apa yang tertulis ini bermanfaat yang membacanya.
Membaca, salah satu cara awal untuk mendapatkan ilmu.Bacaan adalah apa saja yang ada di hadapan, yang ditemui atau yang dialami. Semua mengandung ilmu. Membaca pengalaman, membaca buku, membaca peristiwa, akan menambah ilmu. Kalau mencari pasti mendapatkan.
Apa wujud ilmu yang didapatkan? Kelihatannya sangat halus untuk diwujudkan, tetapi dapat diucapkan atau dibuktikan bahwa manusia berilmu itu 'bisa'.
Bisa, iya... bisa melakukan, bisa menyelesaikan pekerjaan, bisa memperoleh apa yang kita inginkan.
Bagi pembelajar, belajar dengan maksimal pasti mendapatkan lebih banyak ilmu.
Ilmu, sarana untuk mencapai kesenangan. Bersama ilmu bisa memperoleh apa yang dicita-citakan. Dengan ilmu bisa diraih kebahagiaan.
Mencari ilmu tidak terbatas oleh waktu. selama masih sempat diupayakan selalu mencari. mencari ilmu tidak terbatas oleh tempat. Dimanapun berada, bisa mendapatkan ilmu.segala sesuatu bisa diraih hanya dengan ilmu. ilmu yang bermanfaat, tentunya. Termasuk, pada kali awal ini menulis-nulis dengan harapan apa yang tertulis ini bermanfaat yang membacanya.
Membaca, salah satu cara awal untuk mendapatkan ilmu.Bacaan adalah apa saja yang ada di hadapan, yang ditemui atau yang dialami. Semua mengandung ilmu. Membaca pengalaman, membaca buku, membaca peristiwa, akan menambah ilmu. Kalau mencari pasti mendapatkan.
Apa wujud ilmu yang didapatkan? Kelihatannya sangat halus untuk diwujudkan, tetapi dapat diucapkan atau dibuktikan bahwa manusia berilmu itu 'bisa'.
Bisa, iya... bisa melakukan, bisa menyelesaikan pekerjaan, bisa memperoleh apa yang kita inginkan.
Bagi pembelajar, belajar dengan maksimal pasti mendapatkan lebih banyak ilmu.
Ilmu, sarana untuk mencapai kesenangan. Bersama ilmu bisa memperoleh apa yang dicita-citakan. Dengan ilmu bisa diraih kebahagiaan.
Rabu, 15 Juni 2011
Emosi Negatif
Emosi Negatif
Emosi negatif merupakan suatu perasaan yang tidak mengenakkan. Pada umumnya emosi negatif ini akan timbul kepada siapa saja yang mempunyai emosi belum stabil.Emosi negatif bisa berupa rendah diri, tinggi diri, takut, marah, malu, kecewa, dan sebagainya.Emosi negatif harus dijaga - mungkin tepatnya diwaspadai - agar emosi ini tidak keluar menjadi tindak laku yang bisa merugikan dirinya sendiri atau makhluk lain.
Dari kesadaran emosi negatif timbul dalam keadaan:
1. Sadar
Emosi negatif sering timbul kala apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang kita terima atau yang kita terima tidak seperti yang kita inginkan. Apabila mendapatkan perlakuan yang tidak selayaknya dilakukan oleh manusia kebanyakan, yang mengenakkan terkadang timbul.Emosi yang demikian karena disebabkan oleh hal yang terlihat dan diterima dengan sadar.Misalnya, dimarahi orang tua, jadi sedih, disalahi adik, karena merasa lebih tua, marah jadinya, dikerjai teman, karena merasa disakiti timbul marahnya.
2. Tak sadar
Bisa saja timbul tanpa mengerti sebab-musababnya tahu-tahu kita merasakan emosi negatif, sedih, susah, gelisah.Ketika kita diam duduk-duduk, lho kok tiba-tiba bersedih ada apa? Dicari-cari asal-usulnya ya kok ndak ketemu juga. Ada yang menyimpulkan wah ... ini firasat apa ya? Larinya ke firasat. Apa benar kalau peristiwa ini merupakan firasat? Hayo ... siapa yang bisa menjawab? Ngacung!
Namanya khan emosi, selama masih mempunyai perasaan ya pasti mempunyai emosi, betul, khan?
Siapa yang bisa memanage emosi? Ya... yang punya to. Kira-kira begitu jawabnya. Apa bisa dimanage? Saat sedih dihapus dengan cara melihat yang lucu-lucu selanjutnya jadi gembira. Semula terasa biasa, netral, cari emosi yang menyenangkan dengan cara makan, main atau pergi suatu tempat, jadilah 'berubah'.Beginilah cara memanage emosi?
Kita pernah pergi ke mall, wisata, dengan mengeluarkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit untuk mengubah emosi. Melancong ke luar pulau bahkan ke luar negeri untuk mengganti emosi. Untuk memanage emosi kok harus bermodal. Yang tidak punya modal terus bagaimana? Apa mau jual alun-alun dulu baru bisa mengubah emosi? Ah emangnya alun-alun itu warisan si mbah? Lalu bagaimana kalo terlanjur merasakan emosi negatif dan tidak bermodal? Waduh, kok tanya-nyata melulu ya? Lha iya wong kamu ikutan tanya.Saya punya 'rahasianya' agar bisa memanage emosi tanpa modal besar.Apa? Apa? Apa? Lha kepingin tahu khan? Iya. Apa? Apa? Apa? 'Tenang', wani pira? orang ndak punya modal malah ditanyai 'wani pira'. Ayo cepat katakan rahasia itu? Tenang! Silent! Tenang...,tenang...ndak menjawab, kok tenang-tenang. Lha iya T-e-n-a-ng.
Emosi negatif merupakan suatu perasaan yang tidak mengenakkan. Pada umumnya emosi negatif ini akan timbul kepada siapa saja yang mempunyai emosi belum stabil.Emosi negatif bisa berupa rendah diri, tinggi diri, takut, marah, malu, kecewa, dan sebagainya.Emosi negatif harus dijaga - mungkin tepatnya diwaspadai - agar emosi ini tidak keluar menjadi tindak laku yang bisa merugikan dirinya sendiri atau makhluk lain.
Dari kesadaran emosi negatif timbul dalam keadaan:
1. Sadar
Emosi negatif sering timbul kala apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang kita terima atau yang kita terima tidak seperti yang kita inginkan. Apabila mendapatkan perlakuan yang tidak selayaknya dilakukan oleh manusia kebanyakan, yang mengenakkan terkadang timbul.Emosi yang demikian karena disebabkan oleh hal yang terlihat dan diterima dengan sadar.Misalnya, dimarahi orang tua, jadi sedih, disalahi adik, karena merasa lebih tua, marah jadinya, dikerjai teman, karena merasa disakiti timbul marahnya.
2. Tak sadar
Bisa saja timbul tanpa mengerti sebab-musababnya tahu-tahu kita merasakan emosi negatif, sedih, susah, gelisah.Ketika kita diam duduk-duduk, lho kok tiba-tiba bersedih ada apa? Dicari-cari asal-usulnya ya kok ndak ketemu juga. Ada yang menyimpulkan wah ... ini firasat apa ya? Larinya ke firasat. Apa benar kalau peristiwa ini merupakan firasat? Hayo ... siapa yang bisa menjawab? Ngacung!
Namanya khan emosi, selama masih mempunyai perasaan ya pasti mempunyai emosi, betul, khan?
Siapa yang bisa memanage emosi? Ya... yang punya to. Kira-kira begitu jawabnya. Apa bisa dimanage? Saat sedih dihapus dengan cara melihat yang lucu-lucu selanjutnya jadi gembira. Semula terasa biasa, netral, cari emosi yang menyenangkan dengan cara makan, main atau pergi suatu tempat, jadilah 'berubah'.Beginilah cara memanage emosi?
Kita pernah pergi ke mall, wisata, dengan mengeluarkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit untuk mengubah emosi. Melancong ke luar pulau bahkan ke luar negeri untuk mengganti emosi. Untuk memanage emosi kok harus bermodal. Yang tidak punya modal terus bagaimana? Apa mau jual alun-alun dulu baru bisa mengubah emosi? Ah emangnya alun-alun itu warisan si mbah? Lalu bagaimana kalo terlanjur merasakan emosi negatif dan tidak bermodal? Waduh, kok tanya-nyata melulu ya? Lha iya wong kamu ikutan tanya.Saya punya 'rahasianya' agar bisa memanage emosi tanpa modal besar.Apa? Apa? Apa? Lha kepingin tahu khan? Iya. Apa? Apa? Apa? 'Tenang', wani pira? orang ndak punya modal malah ditanyai 'wani pira'. Ayo cepat katakan rahasia itu? Tenang! Silent! Tenang...,tenang...ndak menjawab, kok tenang-tenang. Lha iya T-e-n-a-ng.
BELAJAR FISIKA
BELAJAR FISIKA
Materi fisika katanya tidak gampang. Anak-anak sulit menerima pelajaran yang diterangkan oleh guru. ketika ulangan hasilnya wao....enam puluh, paling tinggi nilai di kelas itu 85. nilai 60 merupakan nilai rata-rata di kleas itu. Bagaimana ini? Siapa yang perlu dibenahi? Apanya yang perlu dibenahi?
Benarkah pendapat anak-anak ini mewakili anak-anak secara umum. ataukah hanya dia sendiri yang mengatakan demikian?
Kalau pendapat saya ada dua sudut pandang tentang kekurangberhasilan penyerapan materi fisika oleh anak-anak.
1. Siswa (anak-anak)
Siswa bisa saja kurang konsentrasi dalam menerima penjelasan guru. Kurang konsentrasi ini yang bisa menyebabkan pikiran anak menjadi terhalang oleh apa saja yang diperhatikan. Perhatian yang ke mana-mana menjadikan materi yang terserap terpenggal-penggal sehingga tidak utuh dalam satu pengertian/satu konsep.Apabila ini terjadi pada anak maka si anak seperti tidak pernah mendapatkan materi pelajaran.Kekurangkonsentrasian anak disebabkan oleh siapa? Apakah permasalahan si anak yang sedang terpendam waktu mereka menghadapi pelajaran di kelas? Ataukah model pembelajarannya kurang sesuai ataukah kalau itu dijelaskan, penjelasannya yang terpenggal-penggal sehingga konsentrasi anak terpengaruh kondisi yang demikian. Sudah menarikkah penyampaiannya?
2. Guru
Menurut pembelaan si anak, "Gurunya kalau menerangkan menghadap ke dinding dan atas atap kelas, tidak komunikatif. Jika tinyai, penjelasannya sambil marah-marah. Orang belum tahu kan harus bertanya, setelah bertanya dijawab dengan nada yang kurang ngemong."
memang lebih enak kalau yang mengajar 2 orang guru dalam 1 pelajaran, tapi kalau tidak paham dengan penjelasan guru pertama, apa salahnya kalau bertanya dengan guru kedua..?? dan seharusnya guru kedua menjelaskan dengan penuh kesabaran,, seharusnya guru juga tidak hanya menguasai materi pelajaran, akan tetapi juga mengerti bagaimana cara berinteraksi dengan murid agar murid tidak merasa bosan dengan pelajaran yang di ajarkan, guru juga harus menjaga perkataan, dan nada bicara pada murid agar murid tidak memandang sebelah mata pada guru tersebut. Jadi, sifat dan cara guru mengajar juga dapat mempengaruhi nilai siswa.
Materi fisika katanya tidak gampang. Anak-anak sulit menerima pelajaran yang diterangkan oleh guru. ketika ulangan hasilnya wao....enam puluh, paling tinggi nilai di kelas itu 85. nilai 60 merupakan nilai rata-rata di kleas itu. Bagaimana ini? Siapa yang perlu dibenahi? Apanya yang perlu dibenahi?
Benarkah pendapat anak-anak ini mewakili anak-anak secara umum. ataukah hanya dia sendiri yang mengatakan demikian?
Kalau pendapat saya ada dua sudut pandang tentang kekurangberhasilan penyerapan materi fisika oleh anak-anak.
1. Siswa (anak-anak)
Siswa bisa saja kurang konsentrasi dalam menerima penjelasan guru. Kurang konsentrasi ini yang bisa menyebabkan pikiran anak menjadi terhalang oleh apa saja yang diperhatikan. Perhatian yang ke mana-mana menjadikan materi yang terserap terpenggal-penggal sehingga tidak utuh dalam satu pengertian/satu konsep.Apabila ini terjadi pada anak maka si anak seperti tidak pernah mendapatkan materi pelajaran.Kekurangkonsentrasian anak disebabkan oleh siapa? Apakah permasalahan si anak yang sedang terpendam waktu mereka menghadapi pelajaran di kelas? Ataukah model pembelajarannya kurang sesuai ataukah kalau itu dijelaskan, penjelasannya yang terpenggal-penggal sehingga konsentrasi anak terpengaruh kondisi yang demikian. Sudah menarikkah penyampaiannya?
2. Guru
Menurut pembelaan si anak, "Gurunya kalau menerangkan menghadap ke dinding dan atas atap kelas, tidak komunikatif. Jika tinyai, penjelasannya sambil marah-marah. Orang belum tahu kan harus bertanya, setelah bertanya dijawab dengan nada yang kurang ngemong."
memang lebih enak kalau yang mengajar 2 orang guru dalam 1 pelajaran, tapi kalau tidak paham dengan penjelasan guru pertama, apa salahnya kalau bertanya dengan guru kedua..?? dan seharusnya guru kedua menjelaskan dengan penuh kesabaran,, seharusnya guru juga tidak hanya menguasai materi pelajaran, akan tetapi juga mengerti bagaimana cara berinteraksi dengan murid agar murid tidak merasa bosan dengan pelajaran yang di ajarkan, guru juga harus menjaga perkataan, dan nada bicara pada murid agar murid tidak memandang sebelah mata pada guru tersebut. Jadi, sifat dan cara guru mengajar juga dapat mempengaruhi nilai siswa.
Bahasa GAul
Bahasa Gaul
Bahasa Gaul, bahasa yang digunakan dalam bahasa pergaulan. Bahasa gaul meliputi bahasa verbal, fon bahasa isyarat-tubuh-anggota/kinesik, dan mimik. Bahasa yang digunakan lebih variatif sesuai dengan siapa penutur atau penyampai dan siapa yang diajak berbahasa.
Secara verbal, seperti layaknya manusia berkomunikasi dari penutur satu dengan lain yang mempunyai bahasa sama. Hal ini bisa terjadi bila dalam komunitas penutur atau pembicara yang sama-sama terbiasa dengan pergaulan mereka. Bahasa yang digunakan sudah lazim dipakai dalam ranah tutur di lingkungannya-lingkup kecil ataupun besar- asal mempunyai kesamaan bahasa tuturnya.
Secara verbal, seperti layaknya manusia berkomunikasi dari penutur satu dengan lain yang mempunyai bahasa sama. Hal ini bisa terjadi bila dalam komunitas penutur atau pembicara yang sama-sama terbiasa dengan pergaulan mereka. Bahasa yang digunakan sudah lazim dipakai dalam ranah tutur di lingkungannya-lingkup kecil ataupun besar- asal mempunyai kesamaan bahasa tuturnya.
MEMBENTUK RASA PERCAYA DIRI
MEMBENTUK RASA PERCAYA DIRI
(INSTRUMEN LAGU I BELIEVE I CAN FLY….SEDIKIT IKUT MENYANYI….MENGAJAK AUDIENCE MENYANYI…(MAKA PERLU ADA LIRIC))
SELAMAT PAGI TEMAN-TEMAN……teman-teman saya yakin anda semua sudah paham apa itu percaya diri….tetapi banyak orang yang meragukan kemampuan dirinya…..banyak orang yang tidak yakin bahwa dia mampu berpenghasilan 100 juta perbulan…… banyak orang yang tidak yakin bahwa dia mampu membeli kendaraan impiannya……coba kita tes…(menanyakan pada sebuah audience tg kendaraan yang dimiliki. Missal saat ini belum punya sepeda motor dan kendaraan impiannya adalah CRV….kemudian diberi pertanyaan…..apakah dia percaya bahwa tahun depan dia mampu membeli CRV…..)......teman-teman,percaya atau belief adalah begitu kita meyakini sebagai sesuatu yang benar,kita akan sulit mengubah keyakinan itu….sebuah pertanyaan yang perlu anda tanyakan…sudahkah melakukan yang terbaik dalam hidup anda….tidakkah anda seperti burung elang yang menganggap dirinya seekor ayam?...meski seeekor elang dia bertingkah seperti seekor ayam…..meski dia seekor elang yang gagah,dia menyia-nyiakan kemampuan elangnya…DIA…TIDAK PERNAH…TERBANG!!!...mungkin anda berkata”saya sudah melakukan yang terbaik”….pertanyaan saya,BETULKAH????......bayangkan jika anda adalah seekor elang yang menganggap dirinya ayam….berapa banyak peluang yang anda lewatkan…sudah sejauh mana potensi diri anda yang anda sis-siakan…..tahukah anda?anda itu lebih hebat dari yang anda pikirkan?....(menghampiri penonton,menepuk pundaknya)anda itu lebih hebat dari yang anda pikirkan…(ke penonton yang lain)anda lebih hebat dari yang anda pikirkan…..teman-teman,kita sering secara sengaja telah mengecilkan tuhan kita….setuju dengan kata-kata saya?....anda telah mengecilkan tuhan kita,anda tidak percaya bahwa tuhan anda itu maha kaya……anda tidak percaya bahwa tuhan anda mampu member anda mobil CRV tahun depan….anda tidak percaya bahwa tuhan anda mampu menjadikan anda penngusaha mapan…..anda tidak percaya bahwa tuhan anda mampu memberi anda penghasilan yang besar……teman-teman…..ketika kita tidak yakin akan kemampuan kita maka pada saat itulah anda meragukan kemempuan tuhan menciptakan anda sebagai makhluk yang sempurna…. Bagi saya, sebenarnya hal yang paling buruk yang bisa terjadi dalam kehidupan seorang manusia bukannya yang datang dari luar dan kemudian masuk ke dalam diri manusia. Perkara yang paling bisa menghancurkan manusia bukan sesuatu yang datang dari luar dan kemudian menyergap hidupnya. Entah itu kehilangan pekerjaan, kehilangan kekasih, atau kehilangan pendapatan…… Bukan itu…… tetapi hal yang paling buruk yang bisa terjadi di dalam kehidupan seseorang adalah ketika orang tersebut kehilangan kepercayaan diri terhadap dirinya sendiri…. Istilah lainnya, meminjam bahasa gaul remaja, tidak lagi pede…. Banyak ahli menilai bahwa percaya diri merupakan faktor penting yang menimbulkan perbedaan besar antara sukses dan gagal. Karenanya, tidak sedikit pula yang memberikan pandangannya mengenai teknik-teknik membangkitkan rasa percaya diri. Berikut ini adalah beberapa kiat guna membangun percaya diri.
Pertama, berani menerima tanggung jawab. Gerald Kushel, Ed.D., direktur The Institute of Effective Thinking, pernah mengadakan penelitian terhadap sejumlah manajer. Dari penelitian tersebut, Kushel menyimpulkan bahwa ia menemukan sifat terpenting yang dimiliki oleh hampir semua manajer yang memiliki kinerja tinggi.
Dan sifat tersebut adalah rasa tanggung jawab yang mendorong mereka untuk tampil "sempurna" tanpa peduli pada hambatan apapun yang menghadangnya. Sebaliknya, manajer yang berkinerja buruk dan gagal mencapai kapasitas maksimumnya cenderung melimpahkan kesalahannya pada siapa saja.
Kedua, kembangkan nilai positif.
Pertama, berani menerima tanggung jawab. Gerald Kushel, Ed.D., direktur The Institute of Effective Thinking, pernah mengadakan penelitian terhadap sejumlah manajer. Dari penelitian tersebut, Kushel menyimpulkan bahwa ia menemukan sifat terpenting yang dimiliki oleh hampir semua manajer yang memiliki kinerja tinggi.
Dan sifat tersebut adalah rasa tanggung jawab yang mendorong mereka untuk tampil "sempurna" tanpa peduli pada hambatan apapun yang menghadangnya. Sebaliknya, manajer yang berkinerja buruk dan gagal mencapai kapasitas maksimumnya cenderung melimpahkan kesalahannya pada siapa saja.
Kedua, kembangkan nilai positif.
Jalan menuju kepercayaan diri akan semakin cepat manakala kita mengembangkan nilai-nilai positif pada diri sendiri. Menurut psikolog Robert Anthony, PhD., salah satu cara untuk mengembangkan nilai-nilai positif adalah dengan menghilangkan ungkapan-ungkapan yang mematikan dan menggantinya dengan ungkapan-ungkapan kreatif. Dia menganjurkan membuat peralihan bahasa yang sederhana tapi efektif dari pernyataan negatif ke pernyataan positif. Misalnya, mengganti...kata,,"Saya..tidak..bisa,"..menjadi,"Saya..bisa!"
Ketiga, bacalah potensi diri.
Ketiga, bacalah potensi diri.
Segeralah lacak, gali, dan eksplorasi potensi sukses yang ada pada diri kita. Misalnya dengan bertanya kepada orang-orang terdekat. Termasuk juga mengikuti psikotes dan mendatangi para ahli seperti psikiater, dokter bahkan kiai untuk melacak potensi kita. Karena bisa jadi sangat banyak potensi yang kita miliki tanpa kita sadari, sehingga tidak berhasil kita gali.
Keempat, berani mengambil risiko.
Keempat, berani mengambil risiko.
Keberanian dalam mengambil risiko ini penting, sebab daripada menyerah pada rasa takut alangkah lebih baik belajar mengambil risiko yang masuk akal. Cobalah menerima tantangan, kendati terasa menakutkan atau menciutkan hati. Cari dukungan sebanyak mungkin.
Dengan melakukan hal ini, kita akan mendapat banyak peluang yang tak ternilai harganya. Namun jangan lupa, ketika mencoba sesuatu kita harus siap dengan hasil yang sesuai atau tidak sesuai dengan keinginan.
Kalau hasilnya tak sesuai dengan keinginan, bisa jadi itulah yang terbaik menurut Allah Azza wa Jalla. Kalau kita sudah mencoba, maka niatnya saja sudah menjadi amal. Orang yang gagal adalah orang yang tak pernah berani mencoba. Bukankah menaiki anak tangga kelima puluh harus diawali dengan tangga pertama?
Kelima, tolaklah saran negatif.
Dengan melakukan hal ini, kita akan mendapat banyak peluang yang tak ternilai harganya. Namun jangan lupa, ketika mencoba sesuatu kita harus siap dengan hasil yang sesuai atau tidak sesuai dengan keinginan.
Kalau hasilnya tak sesuai dengan keinginan, bisa jadi itulah yang terbaik menurut Allah Azza wa Jalla. Kalau kita sudah mencoba, maka niatnya saja sudah menjadi amal. Orang yang gagal adalah orang yang tak pernah berani mencoba. Bukankah menaiki anak tangga kelima puluh harus diawali dengan tangga pertama?
Kelima, tolaklah saran negatif.
Bisa jadi, tidak semua orang di sekitar kita memberikan dorongan, dukungan, dan bersikap positif pada kita. Sebagian dari orang yang ada di sekitar kita mungkin berpikiran negatif. Hal inilah yang tak jarang malah melunturkan rasa percaya diri kita dengan mempertanyakan kemampuan, pengalaman, dan aspirasi-aspirasi kita.
Dengan demikian, mungkin ada baiknya jika kita sedikit mengambil jarak dengan sebijak mungkin bila ada pihak-pihak yang mencoba melunturkan kepercayaan diri kita. Keenam, ikuti saran positif. Rasa percaya diri merupakan sifat "menular". Artinya, jika kita dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki cara pandang positif, bersemangat, optimis, dsb, maka kita memiliki kecenderungan untuk meniru sifat tersebut.
Karena itu, carilah lingkungan yang bisa memotivasi kita untuk sukses. Kita harus mulai senang bergaul dengan orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk bangkit. Bergaul dengan orang-orang yang percaya diri akan berbeda dibandingkan bergaul dengan orang-orang yang gagal. Sebab bergaul dengan orang-orang yang percaya diri, Insya Allah semangatnya akan menular kepada diri kita.
Ketujuh, jadikan keresahan sebagai kawan.
Dengan demikian, mungkin ada baiknya jika kita sedikit mengambil jarak dengan sebijak mungkin bila ada pihak-pihak yang mencoba melunturkan kepercayaan diri kita. Keenam, ikuti saran positif. Rasa percaya diri merupakan sifat "menular". Artinya, jika kita dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki cara pandang positif, bersemangat, optimis, dsb, maka kita memiliki kecenderungan untuk meniru sifat tersebut.
Karena itu, carilah lingkungan yang bisa memotivasi kita untuk sukses. Kita harus mulai senang bergaul dengan orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk bangkit. Bergaul dengan orang-orang yang percaya diri akan berbeda dibandingkan bergaul dengan orang-orang yang gagal. Sebab bergaul dengan orang-orang yang percaya diri, Insya Allah semangatnya akan menular kepada diri kita.
Ketujuh, jadikan keresahan sebagai kawan.
Banyak peristiwa atau saat-saat dalam kehidupan yang dapat membuat kita mengalami rasa cemas atau gelisah. Akibatnya, kita mengalami krisis percaya diri. Saat itulah kita harus mulai mengingatkan diri sendiri bahwa rasa cemas dan gelisah merupakan kawan. Tingkatkan energi, tajamkan kecerdasan, tinggikan kewaspadaan, dan kembangkan pancaindera. Daripada menyia-nyiakan energi untuk kecemasan yang sia-sia, lebih baik menghadapi tantangan itu secara tegas dan efektif.
Sesudah perhitungan kita matang, selanjutnya kepercayaan diri akan bertambah dengan memperkokoh ibadah dan doa, karena doa dan ibadah dapat mengundang pertolongan Allah. Semakin kokoh ibadah kita, shalat kita, makin kuat doa-doa kita, dan keyakinan kita dengan pertolongan Allah, maka itu bisa meningkatkan percaya diri.
Kita harus benar-benar menyadari bahwa Allah menciptakan kita benar-benar dengan perhitungan dan pertimbangan Yang Mahacermat.
Sesudah perhitungan kita matang, selanjutnya kepercayaan diri akan bertambah dengan memperkokoh ibadah dan doa, karena doa dan ibadah dapat mengundang pertolongan Allah. Semakin kokoh ibadah kita, shalat kita, makin kuat doa-doa kita, dan keyakinan kita dengan pertolongan Allah, maka itu bisa meningkatkan percaya diri.
Kita harus benar-benar menyadari bahwa Allah menciptakan kita benar-benar dengan perhitungan dan pertimbangan Yang Mahacermat.
By: Alfieyah, Sabtu 22 Mei 2011

